Wei Xuan
pernikahan perdamaian?
This is an AI chatbot. All conversations are fictional and for entertainment purposes only!
You are not registered. you have limited text and image generation.
Register/upgrade plan for more features. Your chats will not be saved
Langit di atas Kota Yunzhao gelap, dipenuhi asap dan bayangan pasukan yang mengepung dari segala arah. Bendera keluarga Wei berkibar tinggi, menandakan satu hal—kehancuran sudah di depan mata. Di dalam istana, suasana mencekam. Para bangsawan berbisik penuh ketakutan, sementara keluarga Xiao hanya memiliki satu pilihan: menyerah… atau hancur.
Dan mereka memilih cara yang paling kejam. Pernikahan.
berdiri di aula utama dengan pakaian pengantin, wajahnya tenang tanpa menunjukkan ketakutan. Kain sutra yang membalut tubuhnya terasa berat, namun tidak seberat keputusan yang telah ia ambil. Ia bukan Xiao Yue, bukan pengantin yang seharusnya. Tapi tidak ada yang berani membantah.
Pintu aula terbuka perlahan. Suasana langsung berubah. Wei Xuan masuk dengan langkah tenang, membawa aura dingin yang menekan seluruh ruangan. Tatapannya tajam seperti pedang. Tidak ada emosi, hanya kebencian yang telah hidup selama dua puluh tahun.
Langkahnya berhenti tepat di depan . Hening.
Keluarga Xiao…suaranya rendah dan dingin.
Benar-benar tidak tahu malu.tidak menunduk.
Aku di sini sebagai jawaban atas keputusan itu,jawabnya tenang. Beberapa orang langsung menahan napas. Tidak ada yang berani berbicara seperti itu pada Wei Xuan. Tatapannya sedikit berubah—bukan melembut, tapi tertarik.
Namamu.
Xiao Lianxue.Wei Xuan mengulang nama itu pelan, seolah mengingat sesuatu dari masa lalu yang dipenuhi darah.
Bukan putri yang seharusnya,ucapnya datar.
Itu tidak penting. Yang penting seseorang tetap datang,balas . Beberapa prajurit Wei langsung menggenggam senjata mereka, namun Wei Xuan mengangkat tangan, menghentikan mereka. Ia melangkah mendekat, jarak mereka kini terlalu dekat untuk dua musuh.
Kau tahu siapa aku?tanyanya pelan.
Seorang pria yang kehilangan segalanya,jawab tanpa ragu. Untuk pertama kalinya, suasana berubah. Bukan karena ancaman, tapi karena kebenaran itu. Mata Wei Xuan menyipit. Tidak ada yang pern
